Hasil Investigasi Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ182 Tahun 2021

Penyebab Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ182

KNKT Merilis Hasil Investigasi Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ182

 

JakartaKomite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membuka hasil investigasi kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ182 pada Januari 2021 rute Jakarta-Pontianak.

 

Hasil investigasi itu terungkap dalam rapat dengar anggapan (RDP) Komisi V DPR, Kamis (3/11/2022). Hadir serta dalam rapat Plt Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Novie Riyanto dan Direktur Utama Sriwijaya Air, Anthony Raimond Tampubolon.

 

Sementara, Ketua Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo dalam paparannya mempersembahkan enam penyebab jatuhnya pesawat macam Boeing 737-500 dengan pendaftaran PK-CLC hal yang demikian.

 

Penyebab Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Boeing 737-500

 

Sriwijaya Air SJ182

 

Penyebab jatuh Sriwijaya Air SJ182 pada perairan Kepulauan Seribu:

 

  • GANGGUAN CARA MEKANIKAL AUTO-THROTTLE

 

Koreksi cara auto-throttle belum hingga komponen mekanikal. Auto-throttle merupakan tuas untuk memegang daya yang dikeluarkan mesin pesawat. Hasil investigasi mengungkapkan bahwa kecelakaan Sriwijaya Air SJ182 terjadi karena kerusakan pada komponen mekanikal. Kerusakan bukan terjadi karena sistem komputer pesawat.

 

  • THRUST LEVER KANAN TAK BERFUNGSI

 

Thrust lever kanan tak berfungsi sesudah ada permintaan autopilot dari cockpit. Nurcahyo mengatakan situasi itu terjadi akibat gangguan pada cara mekanikal. Alhasil, thrust lever kiri mengompensasi dengan terus bergerak mundur sehingga terjadi asimetri atau perbedaan antara daya mesin sebelah kiri dan kanan.

 

“Thrust lever kanan tak mundur seusai permintaan autopilot sebab hambatan pada cara mekanikal dan thrust lever kiri mengkompensasi dengan terus bergerak mundur sehingga terjadi asimetri,” katanya.

 

  • CRUISE THRUST SPLIT MONITOR (CSTM) TELAT MEMUTUS AUTO-THROTTLE

 

Cruise Thrust Split Monitor (CSTM) telat memutus auto-throttle pada dikala pesawat terjadi asimetri. Berdasarkan Nurcahyo, sesudah asimetri, CTSM mestinya dapat menonaktifkan auto-throttle. Tetapi, yang terjadi justru CTSM telat menonaktifkan auto-throttle sehingga pesawat mendadak berbelok ke kiri.

 

Anjuran KNKT Mengenai Pilot

 

  • PENERBANG TAK MENYADARI PERUBAHAN ARAH

 

Kondisi itu timbul dapat jadi karena penerbang terlalu percaya pada cara otomatisasi. Alhasil, pilot kurang memonitor instrumen pembatasan pesawat yang menyebabkan pesawat kehilangan kendali.

 

  • TINDAKAN PEMULIHAN TAK BERJALAN

 

Imbas hilangnya kendali penerbang, pesawat secara mendadak berbelok ke kiri dari yang sepatutnya ke kanan. Sementara, kata Nurcahyo, pilot masih menyadari pesawat masih dalam kendali dan masih berbelok ke kanan.

 

“Kemudi miring ke arah kanan dan sebab kurangnya monitor memunculkan asumsi bahwa pesawat belok ke kanan sehingga tindakan pemulihannya tak sesuai,” terangnya.

 

  • BELUM ADA PANDUAN TENTANG UPSET PREVENTION AND RECOVERY TRAINING

 

Kecelakaan Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak terjadi akibat belum ada tutorial mengenai upset prevention and recovery training (UPRT) yang mempengaruhi proses pelatihan oleh maskapai kepada pilot. Nurcahyo menyebut upset merupakan situasi pesawat mengalami posisi yang tak sesuai. Naik terlalu tinggi, menukik terlalu tajam atau berbelok terlalu besar.

 

Dengan sejumlah temuan inovasi itu, KNKT memberikan rekomendasi terhadap PT Sriwijaya Air buntut kecelakaan salah satu maskapainya itu.

 

  1. KNKT minta Sriwijaya berkonsultasi dengan Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub untuk merevisi prosedur penerbangan, dan minta NTO (no technical objection) dari pabrikan pesawat udara sebelum menjalankan perubahan prosedur hal yang demikian.
  2. Meningkatkan jumlah pengunduhan data dalam Flight Data Analysis Program (FDAP) untuk peningkatan pemantauan operasi penerbangan.
  3. KNKT minta Sriwijaya Air untuk mengingatkan pelaporan bahaya (hazard) dini terhadap segala pegawai.

 

. Doc (DetikNews)